WhatsApp Bisa Membuatmu Gila

Dunia maya semakin merebak dikalangan remaja. Dan mempengaruhi disemua aspek kehidupannya sehari-sehari. Terutama mempengaruhi pentingnya waktu seseorang. Tanpa kita sadari ini adalah masalah yang besar. Karena dunia maya selalu membawakan kearah yang menyenangkan bagi penggunanya. Hal ini sudah menjadi kenyataan dan terbukti dikalangan masyarakat menengah atas dan masyarakat bawah. Kehidupan seseorang pada zaman sekarang dibubuhi dengan media serba canggih dan murah.

Sehingga masyarakat awampun bisa menikmatinya dengan harga terjangkau dan lumayan murah. Misalnya, untuk mengakses internet seorang petani bisa membeli paket internet 5000 rupiah saja. Itu sesuatu yang murah bukan? Bagaimana dengan seorang pegawai atau orang kaya? Tentu data internet yang dibutuhkan akan lebih besar dibandingkan si petani tersebut. Misalnya saja si kaya tidak lagi membeli paket internet melalui ponsel seperti yang dilakukan seorang petani. Akan tetapi si kaya menggunakan jaringan data internet yang lebih canggih dan lebih mahal harganya. Misanya saja si kaya menggunakan perangkat Hospot atau perangkat Wifi dan sejenisnya. Otomatis kecepatan jaringan internetnya semakin cepat dan sangat menyenangkan.

Tetapi perlu digaris bawahi. Dilihat dari pengguna media sosial baik dari kalangan menengah atas maupun bawah, apakah yang mereka lakukan menghasilkan sesuatu yang lebih besar dan menguntungkan dari data internet yang mereka beli?. Nah, disinilah hal yang akan saya klarifikasi dalam tulisan ini. Sekarang Negara Indonesia sudah menjadi Negara berkembang. Secara tidak langsung masyarakat Indonesia secara otomatis akan mengikuti perkembangan zaman. Mau tidak mau zaman akan membawanya kearah kemajuan informasi dan tekhnologi. Dengan demikian masyarakat Indonesia akan manjadi pengguna media canggih tersebut. Contohnya sekarang seseorang yang ingin mengetahui kabar orang tuanya di Negara yang berbeda cukup dengan menelpon dan menulis pesan singkat melalui WhatsApp, Line, Instagram dan lain-lain.

Lalu seberapa besar dampak yang ditimbulkan dari penggunaan data internet untuk berselancar selama 24 jam tersebut? Tentu akan berbeda-beda bagi setiap pengguna. Semua tergantung kepada penggunanya. Mungkin saja mengahasilkan keuntungan dan manfaat yang lebih besar dari data internet yang digunakan. Atau malah sebaliknya hanya akan merusak mental dan merugikan sipengguna tersebut. Yang sangat disayangkan adalah belum adanya peraturan dan etika resmi dalam penggunaan media canggih saat ini. Sehingga media canggih dipandang sama oleh kalangan menengah atas maupun bawah. Padahal jika diamati perkembangan tekhnologi dan informasi harus memberikan arahan-arahan kusus kepada penggunanya. Bukan hanya kesadaran dari penggunanya saja.

Bagaimana dengan pengguna internet yang tidak sadar akan kerusakan mentalnya karena terbuai dengan kecanggihan media internet? Tentu bila hal ini tidak diarahkan maka akan semakin hancur masa depannya dan merusak moral sipengguna media internet itu sendiri. Media internet didunia ini berjalan dengan bebas tanpa ada larangan dan paksaan. Siapapun boleh menggunakannya kapanpun dan dimanapun. Saya contohkan seperti halnya para Hakcer dan yang lainnya. Mereka bisa mengakses internet sesuka mereka sebebas mereka. Tapi, apakah hasilnya akan berdampak positif atau negatif? Itu semua kembali kepada mereka.

Baiklah sepertinya tulisan saya diatas terlalu mendetail mnyelami hiruk pikuk perkembangan media internet. Saatnya saya akan berbagi cerita saya kepada pembaca dan semua kisah ini bermula ketika saya terbuai dengan kecanggihan dunia maya di media sosial yaitu WhatsApp. Bagaimana ceritanya? Baik langsung saja. Sudah lama saya mengenal dunia maya yaitu sejak saya Aliyah ketika itu sambil mondok dipesantren sampai saya kuliah hingga sekarang. Suatu ketika, saya menggunakan aplikasi yang bernama WhatsApp atau sering disingkat WA atau mungkin ada sebutan lainnya. Nah, saat itulah saya mulai menggunakannya seperti untuk kepentingan Organisasi, Kampus, Keluarga, dan sebagainya. Awalnya saya termasuk orang pendiam dan sulit diajak bergabung di acara-acara yang sedang buming di sekitar saya.  Dengan sarana WhatsApp dengan mudah saya mendapatkan informasi-informasi penting saat itu. Hingga saya mendapat pekerjaanpun berawal dari WhatsApp, semuanya serba online.

Namun pada suatu ketika saya sedang asyik dan tergila-gila dengan WhatsApp. Saya banyak chat atau sms dan mengobrol dengan teman-teman di seluruh provinsi bahkan sampai luar Negeri, seperti Malaysia, singapura, korea, inggris, mesir, iran, madinah dan lain-lain. Saya bisa mengenal mereka karena saya sedikit-sedikit bisa berbahasa Inggris dan Arab. WhatsApp mempertemukan saya dengan orang yang tidak saya kenal menjadi kenal. Tetapi semuanya hanya terjadi diruang hampa. Pada lain waktu saya sedang tergila-gila dengan sebuah grup Blogger dan sebuah grup Komunitas Sukses Menulis. Didalam grup tersebut memiliki peraturan dan etika, namun apa yang terjadi?? Malah saya didalamnya membuat onar dan mengajak ngobrol bebas bersama teman-teman grup tersebut. Awalnya saya merasa itu sebuah perkenalan dan itu sebuah lelucon biasa. Namun lama kelamaan rasanya tidak enak kalau tidak membuat lelucon sehari saja di kedua grup tersebut.

Saking asiknya beberapa teman sayapun ikut nimbrung dan yang terjadi adalah semakin menjadi-jadi. Dan anehnya lagi tidak semua orang digrup tersebut menggubrisnya. Mungkin ada beberapa orang saja yang mengingatkan dan menasehati. Tetapi apa yang terjadi?? Saya dan beberapa teman saya yang sudah menjadi korban lelucon semakin menjadi. Lalu beberapa orangpun ada yang secara sengaja keluar dari grup tersebut. Satu demi satu mulai berguguran. Tetapi sama sekali tidak membuat saya dan teman-teman gokil saya merasa bersalah. Saya tidak menyebutkan siapa mereka teman-teman saya tersebut. Cukup saya saja yang mengetahui ini menjadi rahasia pribadi dan mungkin bagi mereka ada yang merasa karena membaca tulisan ini, maka saya mohon dengan sangat untuk memaafkan saya. Karena saya disini hanya menyadarkan diri saya bahwa saya salah. Namun buat sahabatku yang lainnya jika merasa bersalah maka berubahlah dan segera meminta maaf selama masih bisa.

Diakhir tulisan saya ini hanya berupa nasehat buat saya pribadi dan saya sangat bersyukur bila menjalar ke pembaca yang mana pernah melakukan hal yang persis saya lakukan. Kembali keceritaku yang suka gokil dikedua grup tersebut. Saya suka meledek teman-teman untuk ikutan gokil, bahkan sampai seperti orang gila. Mungkin seperti itulah kondisinya jika seseorang sedang asik dan sudah terpaut dengan WhatsApp. Bahkan ketika berbalas-balas chatpun saking heroiknya saya terkadang girang sendiri dan meloncat-loncat. Itulah saking anehnya menjadi korban media sosial. Bagaimana tidak?! Coba bayangkan saja, kita sudah kenal dengan orang lain dan semakin lama semakin kenal. Lalu orang lain tersebut mempunyai kesamaan dalam prinsip, karakter dan lain-lain. Otomatis diibaratkan sebuah tali yang terputus-putus jika ada tali yang lain maka akan semakin kencang dan kuat, dan bisa saja merobohkan pohon yang besar. Nah, begitulah gambarannya.

Namun bagaimana jika tali yang panjang tadi malah mengikat dirikita? Tentu kita akan merasa kesakitan dan sesak nafas dan bisa terkena penyakit paru-paru dan akhirnya kita mati. Maksudnya apa? Yaitu hanya dengan beberapa orang saja yang gokil bisa membuat grup WhatsApp hancur berantakan dan kurang efektif. Begitulah realita yang terjadi pada grup tersebut, sebenarnya masih banyak hal-hal negatif lainnya jika saya jelaskan secara mendetail. Lalu apa dampak negatif pada diri kita? Apakah akan mempengaruhi dalam kehidupan kita sehari-hari? Oh! Tentu akan sangat mempengaruhi. Diantaranya : waktu kita terbuang habis sia-sia, membuat kita lelah karena otak kita terus berfikir mencari kata-kata yang bisa membuat unik dan lucu, mendapati rasa capek dan penat karena tubuh kita sering bergerak disebabkan kegirangan saat mendapatkan sms atau chat dengan balasan yang lucu, aneh, dan gokil. Sangat banyak sekali selain itu misalnya dampak negatifnya dalam segi aktifitas kita, misalnya menjadi malas bekerja karena lalai dengan waktu, meninggalkan tugas harian yang sudah terjadwal rapi, membuat kita merasa paling wah, populer, dan keren padahal hanya diruang hampa.

Banyak sekali hal-hal yang aneh dan kurang baik jika kita menggunakan media sosial hanya untuk berhura-hura, memang betul dari segi positifnya ada. Tetapi yang saya takutkan apakah segi positif tersebut bisa mengalahkan segi negatif apabila hal negatif yang kita lakukan semakin banyak dan semakin berkembang. Berbeda jika kita ingin berhenti dari hal yang negatif  yang sudah menumpuk dengan menggantinya kepada hal yang positif otomatis akan dimenangkan oleh si positif. Saya akan membuat perbandingan, hal positif 20% berjalan beriringan dengan hal negatif 80%. Tentu akan dimenangkan oleh si negatif, apa alasannya? Karena keduanya sama-sama berjalan terus, lalu mengapa saya membuat perbandingan si negatif lebih besar daripada si positif? Karena itu hal nyata yang sudah terjadi. Apakah anda ingin menyangkal? Ingin berkomentar? Silahkan sangkal diri sendiri dan silahkan komentari diri anda sendiri. Saya disini bukan lawan atau musuh anda, saya tidak mencari musuh apalagi memutuskan tali persahabatan yang sudah terjalin erat tersebut. Saya hanya ingin menyadarkan diri saya sekaligus berbagi dan ingin berubah kepada hal yang lebih baik dan produktif, hanya itu tujuan utama dari tulisan ini.

Sepertinya banyak pembaca tulisan saya ini menganggap saya ini orang lucu, cupu, aneh, kurang kerjaan. Oh, tidak masalah bagi saya. Mungkin apabila hal itu terjadi, saya berdoa dan berharap hal itu akan menjadi pahala bagi saya. Dan sebaliknya apabila tulisan saya ini mengandung unsur ketidaksukaan dan kekecewaan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Karena tujuan dari tulisan ini kusus untuk diri saya sendiri. Dan apablia tulisan ini membuat anda termotivasi dan bermanfaat yang membuat anda semakin sadar dan mengerti. Saya harap kerelaannya untuk berkomentar di postingan dibawah. Dan bagi pembaca yang merasa tulisan ini perlu perbaikan karena alur jalannya cerita kurang menarik dan kurang rapi, silahkan kritik sarannya yang membangun. Dan satu hal lagi, apabila pembaca ada yang merasa tersinggung silahkan berkomentar dengan sesuatu saran, sebutkan kesalahan saya. Saya akan menerima dengan lapang dada dan ihklas. Saya sengaja menulis alur cerita tulisan ini tidak dengan mengangkat ayat Al-Quran ataupun Hadits, karena jika ada maka akan semakin detail saya menjelaskannya, yang pasti di dalam tulisan ini mengandung unsur-unsur dari keduanya,yaitu berupa nasehat yang baik, ilmu pengetahuan, keihklasan dan lain-lain.Terimakasih.

Sebelum anda meninggalkan bacaan ini saya akan memberikan sebuah renungan atau ungkapan yang keluar dari suara hati saya. Tak lain dan tak bukan masih berhubungan dengan tulisan saya diatas. Jika ingin melihat ungkapannya bisa dilihat dengan mengklik di sisni.

Posted : bd.A
Lokasi : Jakarta,  02 Agustus 2017. 22.00 – 01.00

kunjungi kami di:

| INSTAGRAM | FACEBOOK TWITTER | 

qs          ytb

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s