Tolonglah! Berilah! Kasihlah!

Malam itu saya ingin membeli makanan diluar asrama, karena saya tinggal dikawasan asrama pondok pesantren. Status saya seorang mahasiswa yang sambil menyantri. Sudah seharian saya belum mencicipi secuil makanan apapun, hanya 4 gelas Aqua plastik yang saya minum itupun pada pagi hari sebelum berangkat kuliah dan pada siang hari pada waktu istirahat di kampus. Malam itu sekitar pukul 22.20 PM. Saya pergi mencari makanan kesebuah warung atau biasa dikenal dengan WARTEG (warung tegal). Jarak warung tersebut dari asrama saya sekitar 500 meter. Tanpa pikir panjang sayapun menghidupkan sepeda motor saya dan meluncur kewarung makan tersebut. Dan sampailah saya dengan selamat, karena selama dalam perjalanan menuju warung makan tersebut, perut saya sudah berjoget-joget sendiri. Sebab menahan rasa lapar dari pagi sampai malam hari. Saya sengaja tidak makan karena hari itu banyak kegiatan dadakan sehingga waktu kosong saya hanya tersisa pada malam hari saja.

Kendatipun saya sampai di warung tegal itu. Sayapun langsung memesan beberapa menu makanan favorit saya yaitu sayur jengkol dan tumis udang ditambah dua buah bakwan goreng beserta sambal dan nasi yang agak banyak. Saya menyuruh ibu warteg untuk melebihkan nasinya. Karena saya ingin balas dendam untuk mengganti waktu makan saya yang berlalu pada pagi dan siang harinya. Rasanya saya ingin segera melahapnya ditempat seketika itu, tetapi saya berubah pikiran untuk melahapnya di asrama. Karena di asrama sedang tidak ada teman-teman saya dikarenakan masih liburan kuliah. Tidak bisa dibayangkan jika teman-teman saya ada diasrama semua, tentu nasi bungkus saya sudah jadi dagangan pasar. Maklum anak-anak asrama masih suka nimbrung kalau ada makanan enak.

Saya pun membayar nasi bungkus itu sebesar 15000 Rupiah saja. Kkarena terdapat menu ada udangnya jadi agak sedikit mahal. Untuk seorang mahasiswa uang 15000 itu sangat banyak. Karena kalau dibandingkan di jawa uang 15000 bisa dibelikan dua bungkus nasi. Tapi kalau di Jakarta uang 15000 tidak ada apa-apanya. Bahkan untuk membeli makananpun kadang kita harus menambahnya. Bisa menjadi 17000 sampai 20000. Belum lagi jika kita ingin melahapnya di warung tersebut. Tentu kita akan membeli air minum, misalnya aqua, es teh manis, es jeruk dan lain-lain. Itupun belinya masih setingkat warteg. Bagaimana teman-teman kuliah yang membeli makanan di restaurant atau warung makan yang sudah ngetren. Tentu sekali duduk bisa merogoh uang sebesar 30000 sampai 40000.

Usai membayar makanan, saya langsung menuju sepeda motor dengan buru-buru karena sudah tidak tahan lagi menahan rasa lapar. Saat itu saya mengantongi uang sebesar 20000 dikurangi 15000 harga nasi bungkus yang saya beli. Jadi masih sisa 5000 Rupiah yang masih tergenggam ditangan. Motorpun sudah saya hidupkan tinggal menarik gasnya, tiba-tiba datang tiga orang anak kecil. Seingat saya ada yang kecil sekali memakai baju merah kemudian ada yang sedang memakai baju abu-abu dan ada yang tidak terlalu besar memakai baju kuning. Ketiga anak kecil tersebut sepertinya tidak berbeda jauh umurnya, mungkin sekitar 6 tahun dan 8 tahunan. Saya perhatikan ketiga anak tersebut, ternyata merea ingin membeli makanan. Tetapi bukan makanan keseluruhan menunya seperti yang saya beli. Mereka hanya membeli nasi saja tanpa ada yang lain.

Saya yakin mereka hanya membeli nasi kerena telinga saya mendengarnya sendiri. Tanya salah satu dari mereka ke ibu warteg “buk bisa gak saya beli nasinya buk, tapi uang kita Cuma 4000 aja buk?”… Si ibu warteg hanya diam saja tidak menjawabnya sepatah katapun. Entah apa sebabnya, ataukah ketiga anak ini sudah sering melakukannya atau belum pernah sama sekali, saya tidak tahu. Barulah tidak lama Si ibu warteg mulai berbicara “ haaa? Beli nasi kok Cuma 4000 toh, terus dimakan disini lagi!”. Kata-kata itu hampir membuatku rasanya ingin pingsan dan mengelus dada. Saya dibuat tercengang sembari meneteskan sedikit air mata, tapi tidak jadi keluar. Tanpa pikir panjang saya memanggil salah satu dari ketiga anak tersebut dan saya berikan uang saya yang tersisa hanya 5000 Rupiah tadi. Sembari ketiga anak tersebut mengetahui kalau saya memberi uang sedikit tersebut mereka serentak bilang “makasih ya om, makasih ya om,”… Hati saya dibuatnya bergetar malam itu. Saya jadi melongo entah kenapa peristiwa ini terjadi pada diri saya itu.

Akhirnya saya pulang keasrama seakan sudah lupa jalan pulangnya. Rasa laparkupun rasanya hilang seketika. Saya hanya membayangkan bagaimana bisa anak-anak kecil itu kelaparan.  Sedih saya dibuatnya, walaupun saya hanya bisa memberikan selembar uang kertas. Namun selembar itu sangat berharga bagi mereka. Terkadang saya sendiri masih meremehkan uang recehan sisa belanja. Waktu itu saya pulang keasrama tidak langsung melahap makanan yang saya beli. Entah selapar apapun saya tahan, saya harus kuat, saya sudah berniat ketika pulang dari warteg tersebut untuk mengbadikan peristiwa ini dalam tulisan. Dan inilah hasil tulisan yang berisi kisah mengharukan yang saya alami pada  malam itu. Jika anda mera tulisan saya ini layak untuk dibaca dan dijadikan sebuah pelajaran maka silahkan berikan komentar dan saran terbaik anda. Dalam tulisan ini mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang bersosial tinggi, tidak egoisme dalam menjalani proses kehidupan yang sementara ini. Terimakasih.

 

Lokasi : Cilandak, 07 Agustus 2017. 19.30

Posted :bd.A / Colek IG  : komunitas menulis Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s