Nailia

            Nailia, sudah lama aku tak menemuimu. Mungkin, sekarang kau tumbuh menjadi gadis cantik dengan rambut sebahu, alis melengkung dan bibir merah muda yang indah. Ah, aku amat mencintaimu. Kau tahu? Setahun tak bertemu tentu akan membuat perjumapaan kita amat indah bukan? Meski kita jauh, namun senja selalu bisa memecahkan rinduku padamu. Sayang, kau juga tau, aku tak punya banyak waktu. Seperti biasa, sebentar lagi kilauan jingga ini perlahan pudar. Aku harus kembali ke pesantren. Sebentar lagi azan magrib menjemputku. Kau tentu juga selalu tau bahwa aku diberi izin tidaklah lama. Tapi tenanglah, meski begitu, pertemuan kita selalu indah. Sampai jumpa! Besok atau lusa, aku akan kembali menemuimu.

***

            Nailia, kita mengenal cinta melalui rinai-rinai kecil hujan. Entah rintik hujan yang keberapakah ini, kau tetap pada kebiasaanmu, selalu membuatku menunggu. Sore ini aku kembali menjemput rinai hujan di beranda Musahalla Baiturrahman. Tempat yang teramat dekat dengan pondok pesantren Al-Falah Puteri. Sebenarnya aku selalau khawatir saat kita berada di sini, bukankah ustadz dan ustadzah sering lewat, lalu lalang daerah ini. Tapi, kau selalu menyakinkanku, berkata semua akan baik-baik saja. Aku ragu, kau lalu menatapku begitu yakin. Ah, aku kalah, Nailia. Maka sempurna, kita menjadikan tempat ini sebagai wadah pertemuaan kita.

            Kau tak pernah jera membuatku menunggu. Hari ini, lagi-lagi hujan bergantian turun, memutus kelap jingga di perupukan. Ah, Nailia, sungguh, kau sangat menyiksaku dengan penantian ini. Ini rinai hujan dan sore yang kesekian kalinya aku menunggumu. Tak pernah bosan. Tak pernah menyesal. Aku sudah terbiasa dengan ini. Di sini, aku menikmati cipratan hujan sebagai wujud gantimu. Aku selalu senang, rinai-rinai kecil ini seolah berdialog denganku. Ini sudah sering kulakukan. Sempurna, kau selalu menyisakan aku sendiri bersama milyaran rinai hujan. Biarlah, entah sampai kapan hatiku mampu bertahan.

            Ah, Nailia, apa kau ingat dengan yang kubilang waktu itu, seseorang akan berpuisi di saat hatinya berkecamuk, dirobek rindu. Dan kini, begitulah aku. Nailia, kau sangat merindukanmu. Tapi, kau selalu melebarkan penantian ini.

            Sebentar lagi hujan reda. Senja perlahan meredup. Kerlap-kerlip lampu di kotamu mulai bermunculan. Aku harus pergi. Ops, munkin pula tidak. Separuh sore bersama hujan menguras tenagaku. Nailia, aku singgah di pondok makan kecil yang kerap jadi persinggahan para santri. Tentu, tempatnyua yang dekat pesantren dan harganya yang murah menjadi daya tarik mereka.

            Sungguh, biasanya, dulu kita sering makan bersama di sini. Aku sering mengodamu, mukamu pun memerah. Cemberut. Hei, kupikir kau semakin cantik saat wajahmu seperti itu. Kini, itu semua hanya menjadi bingkai kenangan yang hampir berdebu. Amat indah.

            Kapan, entah kapan ini akan berakhir, Nailia. Kau selalu membuatku membuatku menunggu.

            Lima menit berlalu. Jam kian berkutat, rentangnya melebar, maka sepuluh menit sudah sempurna memenjara. Penyaji makanan itu gesit menghempaskan lembut butiran nasi goreng yang kupesan. Menyapu keringat. Tersenyum ke arahku. Andai kau melihat ini, kau tentu senang, Nailia. Seperti katamu, kau amat senang melihat orang yang memasak ‘kan? Astaga, kau benar lupa, sebentar lagi azan. Hei, cepat! Penyaji makanan itu amat lambat. Butuh beberapa menit yang banyak untuk melahab habis makanan itu, sebelum senja keburu lenyap di langit. Tidak, sirene di surau mendenging. Lantas sesaat lagi kumandang azan tiba. Ya tuhan, jika langkahku tiba di pesantren setelah magrib, maka pecutan-pecutan rotan ustadz akan menghamburi tubuhku. Seperti minggu lalu, pecutan itu menyisa belang di punggungku juga karena aku datang terlambat. Sakit. Aku menelan ludah.

            Sempurna. Azan telah berkumandang. Aku masih di sini. Menahan detak yang tak beratur di dada. Berpikir. Percuma, tak ada cara. Ah, mengapa pula di saat seperti ini bayangmu tiba-tiba muncul bergelanyut di benakku. Tenang, ya, kau tau, Nailia? Entah mengapa, kotamu ini mendadak sepi. Persis pelabuhan yang ditinggal pelayaran. Aneh, kau bercanda? Entah apa yang terjadi, semua mendadak hening. Gema azan, kesibukan deru motor yang meraung di jalanan nyaris tak terdengar. Waktu tidak berhenti, bumi masih berputar, merantai siklus kehidupan. Namun, gema suara tiba-tiba membisu. Ada apa?

            Mendadak seorang gadis berlalu acuh setelahnya. Tanpa menoleh. Tak peduli. Ia mengenakan warna coklat sebagai pelapis tubuhnya.  Itu warna yang kau sukai, bukan? Bahkan kau kerap mengenakan baju berwarna itu kala menemuiku.

            Tunggu! Gadis itu, bukankah..

            Hei, tidak mungkin. Nailia, mengapa bisa?

            “Nailia..” aku berteriak memanggilnya. Sia-sia, tak ada jawaban.

            “Nailia..”

            Tetap tak ada jawaban. Sekarang aku ragu bahwa itu dirimu.

            Gadis itu mempercepat langkahnya. Tanpa menghiraukan panggilanku, lalu menyeberang, menemui seorang pemuda di Mushalla Baiturrahman. Pemuda yang berpakaian sama sepertiku. Mengenakan peci, berbaju koko. Tunggu! Itu memang aku. Ya tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Ini masa laluku. Aku ingat. Ya, ini pertemuan terakhir kita. Ah, Nailia, ini amat menyakitkan untuk dikenang.

            Lantas siapa gadis yang memakai baju coklat itu? Ia tersenyum di sana, bercanda, tertawa kecil, lalu menoleh ke arahku. Itu, itu kau Nailia. Bagaimana bisa?

Tampaknya gadis itu sedih. Menangis. Mendadak pergi meninggalkan pemudanya di mushalla itu. Bumi bungkam, langit merintih, melumuri kotamu dengan rinanian. Sama seperti tahun lalu, kau juga berpaling tiba-tiba. Mendadak pergi dariku, entah mengapa, dan itu menjadi pertemuan terakhir kita. Pertemuan berdarah.

            NAILIA! Awas, jangan menyeberang!

            Tidak, aku tidak bisa melihat ini lagi. Kecelakaan tahun lalu akan terulang. Aku menyesal, mengapa waktu itu aku tidak menangkapmu. Melarangmu agar tidak pergi. Aku tahu waktu itu, kau mungkin hanya bercanda, pura-pura tak peduli. Kau pergi ke seberang jalan menjauh, hanya karena kau tersinggung waktu kubilang bahwa akau sangat merindukanmu jka kau pergi ke jawa untuk kuliah.

            “Hanya itu?” kau tercengang. Menyaringkan suara.

            “Iya, terus apa lagi?” jawabku, lalu tersenyum.

            Kau menyeringai, mungkin marah, “Kau itu tak pernah peka.”

            Aku menelan ludah. Ya tuhan, Nailia maafkan aku waktu itu. Aku benar tak tahu, tak mengerti, dan kini aku baru sadar maksudmu kapan aku akan mengatakan cinta padamu. Ah, terlalu lambat untuk menyadari, meski aku juga amat mencintaimu, tapi aku terlambat. Lantas membiarkanmu pergi waktu itu. Menyedihkan, dan kau pergi selamanya meninggalkanku.

            Maut itu memang ak bisa ditolak. Sebentar lagi pengemudi gila itu datang. NAILIA! Aku akan menolongmu, mencegah perjumpaan akhir yang berdarah itu. Mendorongmu. Percuma. Kau tembus, bahkan tak bisa kusentuh. Sungguh, Nailia, aku tak bisa melihat ini dan sempurna, mobil itu menabrakmu.

            Ya tuhan, ini amat menyakitkan untuk kulihat kembali.

            Mengapa? Apa yang terjadi ini?

***

            Percik hujan membangunkanku. Rinaiannya pelan mereda. Satu. Dua. Kuatur napas. Menyapu keringat. Jalanan mulai kembali membising, menderu-deru diiringi pendar lampu yang menyala. Ah, aku bermimpi. Sisa ingatan tadi yang hampir raib masih berkutat sebagian di kepalaku. Aku mengerti maksudmu, Nailia. Maafkan aku. Jadi, begitu maksudmu datang ke dalam mimpiku.

            Gema di surau yang kutempati ini akan berbunyi. Hujan sebentar lagi reda. Aku akan beranjak pergi, menemui persinggahan abadimu. Maafkan aku yang lupa tentangmu, lupa menziarahimu. Seharusnya, di saat aku merindukanmu, bukan meresapi rinai hujan ini, merenungi seolah kau hadir kembali dan mengunjungi lagi Mushalla Baiturrahman ini sekedar memecah kembali kenangan kita. Aku  salah, seharusnya aku menziarahimu, melapalkan ayat suci untukmu.

            Aku salah, Nailia. Maafkan aku!

***

            Aku sudah lama tak menemuimu, Nailia. Setahun tak bertemu tentu akan membuat perjumpaan kita amat indah, bukan? Namun, kau tau? Senja selalu bisa memecahkan rasa rinduku padamu. Tenanglah, Nailia. Besok atau lusa akau akan kembali menemuimu, menziarahimu.

            “Terima kasih.” Seseorang lalu menepuk pundakku. Bersuara lirih, pelan, tersenyum saat aku menoleh.

            “KAU!”

            Aku menelan ludah.

            NAILIA!

Kamis, 06 Agustus 2015

19429906_318141908639862_4211048220341739789_n

Biodata :

Muhammad Rifki, sesorang mahasiswa UIN Syarif Hidayatulah sekaligus mahasantri di Ma’had Qalbun Salim, kelahiran di Anjir Pasar lama, 13 Agustus1998. Kini berdomisili di Jl. Hj. Niman no. 07, ingin mengenalnya bisa melalui akun fb Rifki M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s