Nailia

            Nailia, sudah lama aku tak menemuimu. Mungkin, sekarang kau tumbuh menjadi gadis cantik dengan rambut sebahu, alis melengkung dan bibir merah muda yang indah. Ah, aku amat mencintaimu. Kau tahu? Setahun tak bertemu tentu akan membuat perjumapaan kita amat indah bukan? Meski kita jauh, namun senja selalu bisa memecahkan rinduku padamu. Sayang, kau juga tau, aku tak punya banyak waktu. Seperti biasa, sebentar lagi kilauan jingga ini perlahan pudar. Aku harus kembali ke pesantren. Sebentar lagi azan magrib menjemputku. Kau tentu juga selalu tau bahwa aku diberi izin tidaklah lama. Tapi tenanglah, meski begitu, pertemuan kita selalu indah. Sampai jumpa! Besok atau lusa, aku akan kembali menemuimu.

***

            Nailia, kita mengenal cinta melalui rinai-rinai kecil hujan. Entah rintik hujan yang keberapakah ini, kau tetap pada kebiasaanmu, selalu membuatku menunggu. Sore ini aku kembali menjemput rinai hujan di beranda Musahalla Baiturrahman. Tempat yang teramat dekat dengan pondok pesantren Al-Falah Puteri. Sebenarnya aku selalau khawatir saat kita berada di sini, bukankah ustadz dan ustadzah sering lewat, lalu lalang daerah ini. Tapi, kau selalu menyakinkanku, berkata semua akan baik-baik saja. Aku ragu, kau lalu menatapku begitu yakin. Ah, aku kalah, Nailia. Maka sempurna, kita menjadikan tempat ini sebagai wadah pertemuaan kita.

            Kau tak pernah jera membuatku menunggu. Hari ini, lagi-lagi hujan bergantian turun, memutus kelap jingga di perupukan. Ah, Nailia, sungguh, kau sangat menyiksaku dengan penantian ini. Ini rinai hujan dan sore yang kesekian kalinya aku menunggumu. Tak pernah bosan. Tak pernah menyesal. Aku sudah terbiasa dengan ini. Di sini, aku menikmati cipratan hujan sebagai wujud gantimu. Aku selalu senang, rinai-rinai kecil ini seolah berdialog denganku. Ini sudah sering kulakukan. Sempurna, kau selalu menyisakan aku sendiri bersama milyaran rinai hujan. Biarlah, entah sampai kapan hatiku mampu bertahan.

            Ah, Nailia, apa kau ingat dengan yang kubilang waktu itu, seseorang akan berpuisi di saat hatinya berkecamuk, dirobek rindu. Dan kini, begitulah aku. Nailia, kau sangat merindukanmu. Tapi, kau selalu melebarkan penantian ini.

            Sebentar lagi hujan reda. Senja perlahan meredup. Kerlap-kerlip lampu di kotamu mulai bermunculan. Aku harus pergi. Ops, munkin pula tidak. Separuh sore bersama hujan menguras tenagaku. Nailia, aku singgah di pondok makan kecil yang kerap jadi persinggahan para santri. Tentu, tempatnyua yang dekat pesantren dan harganya yang murah menjadi daya tarik mereka.

            Sungguh, biasanya, dulu kita sering makan bersama di sini. Aku sering mengodamu, mukamu pun memerah. Cemberut. Hei, kupikir kau semakin cantik saat wajahmu seperti itu. Kini, itu semua hanya menjadi bingkai kenangan yang hampir berdebu. Amat indah.

            Kapan, entah kapan ini akan berakhir, Nailia. Kau selalu membuatku membuatku menunggu.

            Lima menit berlalu. Jam kian berkutat, rentangnya melebar, maka sepuluh menit sudah sempurna memenjara. Penyaji makanan itu gesit menghempaskan lembut butiran nasi goreng yang kupesan. Menyapu keringat. Tersenyum ke arahku. Andai kau melihat ini, kau tentu senang, Nailia. Seperti katamu, kau amat senang melihat orang yang memasak ‘kan? Astaga, kau benar lupa, sebentar lagi azan. Hei, cepat! Penyaji makanan itu amat lambat. Butuh beberapa menit yang banyak untuk melahab habis makanan itu, sebelum senja keburu lenyap di langit. Tidak, sirene di surau mendenging. Lantas sesaat lagi kumandang azan tiba. Ya tuhan, jika langkahku tiba di pesantren setelah magrib, maka pecutan-pecutan rotan ustadz akan menghamburi tubuhku. Seperti minggu lalu, pecutan itu menyisa belang di punggungku juga karena aku datang terlambat. Sakit. Aku menelan ludah.

            Sempurna. Azan telah berkumandang. Aku masih di sini. Menahan detak yang tak beratur di dada. Berpikir. Percuma, tak ada cara. Ah, mengapa pula di saat seperti ini bayangmu tiba-tiba muncul bergelanyut di benakku. Tenang, ya, kau tau, Nailia? Entah mengapa, kotamu ini mendadak sepi. Persis pelabuhan yang ditinggal pelayaran. Aneh, kau bercanda? Entah apa yang terjadi, semua mendadak hening. Gema azan, kesibukan deru motor yang meraung di jalanan nyaris tak terdengar. Waktu tidak berhenti, bumi masih berputar, merantai siklus kehidupan. Namun, gema suara tiba-tiba membisu. Ada apa?

            Mendadak seorang gadis berlalu acuh setelahnya. Tanpa menoleh. Tak peduli. Ia mengenakan warna coklat sebagai pelapis tubuhnya.  Itu warna yang kau sukai, bukan? Bahkan kau kerap mengenakan baju berwarna itu kala menemuiku.

            Tunggu! Gadis itu, bukankah..

            Hei, tidak mungkin. Nailia, mengapa bisa?

            “Nailia..” aku berteriak memanggilnya. Sia-sia, tak ada jawaban.

            “Nailia..”

            Tetap tak ada jawaban. Sekarang aku ragu bahwa itu dirimu.

            Gadis itu mempercepat langkahnya. Tanpa menghiraukan panggilanku, lalu menyeberang, menemui seorang pemuda di Mushalla Baiturrahman. Pemuda yang berpakaian sama sepertiku. Mengenakan peci, berbaju koko. Tunggu! Itu memang aku. Ya tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Ini masa laluku. Aku ingat. Ya, ini pertemuan terakhir kita. Ah, Nailia, ini amat menyakitkan untuk dikenang.

            Lantas siapa gadis yang memakai baju coklat itu? Ia tersenyum di sana, bercanda, tertawa kecil, lalu menoleh ke arahku. Itu, itu kau Nailia. Bagaimana bisa?

Tampaknya gadis itu sedih. Menangis. Mendadak pergi meninggalkan pemudanya di mushalla itu. Bumi bungkam, langit merintih, melumuri kotamu dengan rinanian. Sama seperti tahun lalu, kau juga berpaling tiba-tiba. Mendadak pergi dariku, entah mengapa, dan itu menjadi pertemuan terakhir kita. Pertemuan berdarah.

            NAILIA! Awas, jangan menyeberang!

            Tidak, aku tidak bisa melihat ini lagi. Kecelakaan tahun lalu akan terulang. Aku menyesal, mengapa waktu itu aku tidak menangkapmu. Melarangmu agar tidak pergi. Aku tahu waktu itu, kau mungkin hanya bercanda, pura-pura tak peduli. Kau pergi ke seberang jalan menjauh, hanya karena kau tersinggung waktu kubilang bahwa akau sangat merindukanmu jka kau pergi ke jawa untuk kuliah.

            “Hanya itu?” kau tercengang. Menyaringkan suara.

            “Iya, terus apa lagi?” jawabku, lalu tersenyum.

            Kau menyeringai, mungkin marah, “Kau itu tak pernah peka.”

            Aku menelan ludah. Ya tuhan, Nailia maafkan aku waktu itu. Aku benar tak tahu, tak mengerti, dan kini aku baru sadar maksudmu kapan aku akan mengatakan cinta padamu. Ah, terlalu lambat untuk menyadari, meski aku juga amat mencintaimu, tapi aku terlambat. Lantas membiarkanmu pergi waktu itu. Menyedihkan, dan kau pergi selamanya meninggalkanku.

            Maut itu memang ak bisa ditolak. Sebentar lagi pengemudi gila itu datang. NAILIA! Aku akan menolongmu, mencegah perjumpaan akhir yang berdarah itu. Mendorongmu. Percuma. Kau tembus, bahkan tak bisa kusentuh. Sungguh, Nailia, aku tak bisa melihat ini dan sempurna, mobil itu menabrakmu.

            Ya tuhan, ini amat menyakitkan untuk kulihat kembali.

            Mengapa? Apa yang terjadi ini?

***

            Percik hujan membangunkanku. Rinaiannya pelan mereda. Satu. Dua. Kuatur napas. Menyapu keringat. Jalanan mulai kembali membising, menderu-deru diiringi pendar lampu yang menyala. Ah, aku bermimpi. Sisa ingatan tadi yang hampir raib masih berkutat sebagian di kepalaku. Aku mengerti maksudmu, Nailia. Maafkan aku. Jadi, begitu maksudmu datang ke dalam mimpiku.

            Gema di surau yang kutempati ini akan berbunyi. Hujan sebentar lagi reda. Aku akan beranjak pergi, menemui persinggahan abadimu. Maafkan aku yang lupa tentangmu, lupa menziarahimu. Seharusnya, di saat aku merindukanmu, bukan meresapi rinai hujan ini, merenungi seolah kau hadir kembali dan mengunjungi lagi Mushalla Baiturrahman ini sekedar memecah kembali kenangan kita. Aku  salah, seharusnya aku menziarahimu, melapalkan ayat suci untukmu.

            Aku salah, Nailia. Maafkan aku!

***

            Aku sudah lama tak menemuimu, Nailia. Setahun tak bertemu tentu akan membuat perjumpaan kita amat indah, bukan? Namun, kau tau? Senja selalu bisa memecahkan rasa rinduku padamu. Tenanglah, Nailia. Besok atau lusa akau akan kembali menemuimu, menziarahimu.

            “Terima kasih.” Seseorang lalu menepuk pundakku. Bersuara lirih, pelan, tersenyum saat aku menoleh.

            “KAU!”

            Aku menelan ludah.

            NAILIA!

Kamis, 06 Agustus 2015

19429906_318141908639862_4211048220341739789_n

Biodata :

Muhammad Rifki, sesorang mahasiswa UIN Syarif Hidayatulah sekaligus mahasantri di Ma’had Qalbun Salim, kelahiran di Anjir Pasar lama, 13 Agustus1998. Kini berdomisili di Jl. Hj. Niman no. 07, ingin mengenalnya bisa melalui akun fb Rifki M

Iklan

Pada Kemarin Hari Itu

Pada Kemarin Hari Itu

Ku atau mu yang ditanya oleh waktu

Yang, lalat-lalat hinggap di tanah tak berdenyut

Namamu hilang, dalam ingatan lelaki beruban pucat

Pada suatu denting jam berduri, azan di seberang sungai berserabut

Menghuni rumahnya. Tanggal berapa lagi kauhitamkan

Maka hitamlah api

Hangus sudah harum yang kaububuhi pada tangan tuanya

Sampai pada suatu malam mengadu

Sehelai uban ia tanam di atas bantal

Saat kau datang,

Tanyakan pada lalat yang menghuni tubuh ayahmu

Tentang yang terjadi kemarin hari

 

Juli, 2017

IMG_20160331_185517Biodata :

Muhammad Rifki, sesorang mahasiswa UIN Syarif Hidayatulah sekaligus mahasantri di Ma’had Qalbun Salim, kelahiran di Anjir Pasar lama, 13 Agustus1998. Kini berdomisili di Jl. Hj. Niman no. 07, ingin mengenalnya bisa melalui akun fb Rifki

 

Tolonglah! Berilah! Kasihlah!

Malam itu saya ingin membeli makanan diluar asrama, karena saya tinggal dikawasan asrama pondok pesantren. Status saya seorang mahasiswa yang sambil menyantri. Sudah seharian saya belum mencicipi secuil makanan apapun, hanya 4 gelas Aqua plastik yang saya minum itupun pada pagi hari sebelum berangkat kuliah dan pada siang hari pada waktu istirahat di kampus. Malam itu sekitar pukul 22.20 PM. Saya pergi mencari makanan kesebuah warung atau biasa dikenal dengan WARTEG (warung tegal). Jarak warung tersebut dari asrama saya sekitar 500 meter. Tanpa pikir panjang sayapun menghidupkan sepeda motor saya dan meluncur kewarung makan tersebut. Dan sampailah saya dengan selamat, karena selama dalam perjalanan menuju warung makan tersebut, perut saya sudah berjoget-joget sendiri. Sebab menahan rasa lapar dari pagi sampai malam hari. Saya sengaja tidak makan karena hari itu banyak kegiatan dadakan sehingga waktu kosong saya hanya tersisa pada malam hari saja.

Kendatipun saya sampai di warung tegal itu. Sayapun langsung memesan beberapa menu makanan favorit saya yaitu sayur jengkol dan tumis udang ditambah dua buah bakwan goreng beserta sambal dan nasi yang agak banyak. Saya menyuruh ibu warteg untuk melebihkan nasinya. Karena saya ingin balas dendam untuk mengganti waktu makan saya yang berlalu pada pagi dan siang harinya. Rasanya saya ingin segera melahapnya ditempat seketika itu, tetapi saya berubah pikiran untuk melahapnya di asrama. Karena di asrama sedang tidak ada teman-teman saya dikarenakan masih liburan kuliah. Tidak bisa dibayangkan jika teman-teman saya ada diasrama semua, tentu nasi bungkus saya sudah jadi dagangan pasar. Maklum anak-anak asrama masih suka nimbrung kalau ada makanan enak.

Saya pun membayar nasi bungkus itu sebesar 15000 Rupiah saja. Kkarena terdapat menu ada udangnya jadi agak sedikit mahal. Untuk seorang mahasiswa uang 15000 itu sangat banyak. Karena kalau dibandingkan di jawa uang 15000 bisa dibelikan dua bungkus nasi. Tapi kalau di Jakarta uang 15000 tidak ada apa-apanya. Bahkan untuk membeli makananpun kadang kita harus menambahnya. Bisa menjadi 17000 sampai 20000. Belum lagi jika kita ingin melahapnya di warung tersebut. Tentu kita akan membeli air minum, misalnya aqua, es teh manis, es jeruk dan lain-lain. Itupun belinya masih setingkat warteg. Bagaimana teman-teman kuliah yang membeli makanan di restaurant atau warung makan yang sudah ngetren. Tentu sekali duduk bisa merogoh uang sebesar 30000 sampai 40000.

Usai membayar makanan, saya langsung menuju sepeda motor dengan buru-buru karena sudah tidak tahan lagi menahan rasa lapar. Saat itu saya mengantongi uang sebesar 20000 dikurangi 15000 harga nasi bungkus yang saya beli. Jadi masih sisa 5000 Rupiah yang masih tergenggam ditangan. Motorpun sudah saya hidupkan tinggal menarik gasnya, tiba-tiba datang tiga orang anak kecil. Seingat saya ada yang kecil sekali memakai baju merah kemudian ada yang sedang memakai baju abu-abu dan ada yang tidak terlalu besar memakai baju kuning. Ketiga anak kecil tersebut sepertinya tidak berbeda jauh umurnya, mungkin sekitar 6 tahun dan 8 tahunan. Saya perhatikan ketiga anak tersebut, ternyata merea ingin membeli makanan. Tetapi bukan makanan keseluruhan menunya seperti yang saya beli. Mereka hanya membeli nasi saja tanpa ada yang lain.

Saya yakin mereka hanya membeli nasi kerena telinga saya mendengarnya sendiri. Tanya salah satu dari mereka ke ibu warteg “buk bisa gak saya beli nasinya buk, tapi uang kita Cuma 4000 aja buk?”… Si ibu warteg hanya diam saja tidak menjawabnya sepatah katapun. Entah apa sebabnya, ataukah ketiga anak ini sudah sering melakukannya atau belum pernah sama sekali, saya tidak tahu. Barulah tidak lama Si ibu warteg mulai berbicara “ haaa? Beli nasi kok Cuma 4000 toh, terus dimakan disini lagi!”. Kata-kata itu hampir membuatku rasanya ingin pingsan dan mengelus dada. Saya dibuat tercengang sembari meneteskan sedikit air mata, tapi tidak jadi keluar. Tanpa pikir panjang saya memanggil salah satu dari ketiga anak tersebut dan saya berikan uang saya yang tersisa hanya 5000 Rupiah tadi. Sembari ketiga anak tersebut mengetahui kalau saya memberi uang sedikit tersebut mereka serentak bilang “makasih ya om, makasih ya om,”… Hati saya dibuatnya bergetar malam itu. Saya jadi melongo entah kenapa peristiwa ini terjadi pada diri saya itu.

Akhirnya saya pulang keasrama seakan sudah lupa jalan pulangnya. Rasa laparkupun rasanya hilang seketika. Saya hanya membayangkan bagaimana bisa anak-anak kecil itu kelaparan.  Sedih saya dibuatnya, walaupun saya hanya bisa memberikan selembar uang kertas. Namun selembar itu sangat berharga bagi mereka. Terkadang saya sendiri masih meremehkan uang recehan sisa belanja. Waktu itu saya pulang keasrama tidak langsung melahap makanan yang saya beli. Entah selapar apapun saya tahan, saya harus kuat, saya sudah berniat ketika pulang dari warteg tersebut untuk mengbadikan peristiwa ini dalam tulisan. Dan inilah hasil tulisan yang berisi kisah mengharukan yang saya alami pada  malam itu. Jika anda mera tulisan saya ini layak untuk dibaca dan dijadikan sebuah pelajaran maka silahkan berikan komentar dan saran terbaik anda. Dalam tulisan ini mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang bersosial tinggi, tidak egoisme dalam menjalani proses kehidupan yang sementara ini. Terimakasih.

 

Lokasi : Cilandak, 07 Agustus 2017. 19.30

Posted :bd.A / Colek IG  : komunitas menulis Indonesia

Tuntutan Pentingnya Memahami Orang Lain

Kawasan santri – Dalam buku Climbing the Executive Ladder (Bagaimana menjadi seorang eksekutif), Kienzle dan Dare mengatakan, “Anda akan mendapatkan banyak keuntungan kalau mau berusaha keras untuk memahami orang lain. Pemahaman pada orang lain ini sangat penting, baik sebagai eksekutif maupun sebagai manusia biasa. Selain itu, kalau kita bisa memahami orang lain, kita akan merasa puas dan bahagia dalam hidup ini.”

            Kemampuan memahami oang lain merupakan modal yang sangat berharga, pengaruh positif yang diberikannya pada kehidupan benar-benar luar biasa. Maka haruslah kita memahami orang yang ada di sekitar kita untuk kebaikan yang membawa kepada ibadah. Manakala kita dapat memahami dan selanjutnya kita memberi motivasi agar orang itu bisa sukses dalam kehidupannya, itulah persaudaraan sebenarnya yang diajarkan agama, yaitu mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya. Karena dari memahamilah cinta kita kepada orang lain tumbuh dan berkembang dengan baik.

Memahami adalah jalan yang terpenting bagi siapaun yang menginginkan kehidupannya bahagia, bukan malah uang dan uang yang bisa bikin orang bahagia, ini keliru. Kenyataannya yang ada justru malah sebaliknya. Semakin banyak uang yang kita miliki, semakin besar rasa tidak puas yang timbul. Kalau sudah begini, masalah-masalah barupun bermunculan. Karena masalah keuangan merupakan tanda awal timbulnya bermacam-macam masalah. (red/rifqi)

Ikuti kami :

| INSTAGRAM | FACEBOOK | TWITTER | 

qs          ytb

Al- Qur’an Lah Motivasi Sebenarnya

Assalamualaikum Warhmatullahiwabarakatuh…

Bagaiamana kabar antum semunya??.. semoga dalam keadaan sehat tanpa ada satupun kesedihan dan kegalauan yang melanda. Saya akan membawa antum semua pada kisah pribadi saya . Insyaa Allah bermanfaat…Amin…

Ikhwany wa akhawaty fillah….

Kita sudah jelas mengetahui. Bahwasannya siapapun pernah merasakan kegalauan entah itu dirasakannya berlarut-larut dan memakan waktu yang begitu lama. Tak sedikit dari meraka mencari solusi (jalan keluar) dengan cara instan atau dalam istilah kekiniannya mengambil jalan pintas. Contohnya, dengan mengikuti seminar motivasi umum yang memakan biaya yang begitu besar. Demi mencari ketenangan, ketentraman, kenyamanan mereka merelakan waktu dan kesempatan yang terjadwal pada hari tersebut mereka tinggalkan. Dan yang lebih parah lagi adalah banyak diantara manusia yang kurang berilmu lebih memilih untuk murung dan tidak mau beraktifitas seperti halnya manusia yang sewajarnya (biasanya).

Sudahlah akhiri… kesedihan yang melanda pada diri ini, jangan terlalu memikirkan akan kesedihan tersebut… Namun ambillah sebuah pelajaran (‘ibrah) atas apa yang telah terjadi pada diri kita. Bisa jadi dibalik kegalauan dan kesedihan yang kita hadapi membuahkan manfaat dan hikmah yang besar, dan manis rasanya pada suatu hari nanti. Karena kita tidak pernah tahu apa yang sedang dirahasiakan Allah, dalam kondisi seperti ini kita harus berbaik sangka (husnudzon) karena berbaik sangka akan menumbuhkan karakter yang mulia dalam diri kita dan mendapat pahala dari Allah ta’ala.

Motivasi yang sangat ampuh bagi orang –orang yang cerdas dan cerdik adalah dengan menjadikan seluruh umurnya dekat dengan Al-qur’an. Jika kita mempelajari, menghayati, memahami isi dan kandungan didalamnya serta mengamalkannya dalam kehidupan kita. Maka tidak ada lagi dalam diri kita perasaan sedih, megeluh, dan menyesali semua musibah yang telah terjadi pada diri ini. Malah sebaliknya kita kembalikan semuanya kepada Allah.

Ayat-ayat suci Al-qur’an tidak hanya menjadi motivasi bagi kehidupan manusia didunia ini. Namun Al-qur’an itu sendiri adalah pedoman dan petunjuk hidup yang terbukti kebenarannya. Bilamana kita mengkaji Al-qur’an dengan benar, maka tiadalah perasaan ragu, sedih dan was-was di dalam hati. Karena keraguan tersebut bisa jadi datang karena lemahnya iman yang kita miliki. Sehingga dengan begitu mudahnya syaithan menggoda kita untuk menjadi ragu (tidak percaya diri), kemudian timbullah sifat khawatir dan was-was, lalu timbul pula benih-benih kekufuran dalam diri seseorang. Semoga kita terhindarkan dari hal-hal buruk tersebut, semoga Allah selalu menjaga diri kita dari hasutan-hasutan syaithan yang terkutuk..! Amin. (red.budi)

*Mohon kritik dan sarannya apabila ada kesalahan dalam penulisan ataupun maksud dan tujuan dari tulisan saya di atas. Semunya saya serahkan kepada Allah semata. Terimakasih

Ikuti kami :

| INSTAGRAM | FACEBOOK TWITTER | 

qs          ytb

Hikmah di Balik Puasa Senin Kamis

Sore tadi (Kamis, 9 Februari 17) sekitar jam 17:30 sepulangnya kegiatan belajar mengajar di kampung Quran Cinere Depok. Setelah 2 sampai dengan 5 Km perjalanan tiba-tiba mesin motor mati, ketika dicek bensin habis.
Kemudain terbesit dalam pikiranku ini adalah nikmat untukku hehe, hitung-hitung ngebaburit atau nunggu Adzan magrib berkumandang sambil menikmati perjalan, melihat-lihat sekitar menuntun motor menuju pom bensin yang terdekat.
Menysusuri sisi jalan Raya Cinere, melewati pasar, toko-toko, dan Mall, banyak pandangan terhadapku, namun aku tidak peduli apa yang mereka lihat atas diriku. Hatiku bergumam tentang sekitar sisi jalan raya banyak orang-orang dengan tujuan arah masing-masing, dan propesi masing-masing mulai dari tukang parkir, penjaga toko, salles, dan tukang Gojek. Disitu aku tersudut pandangan pada tukang Ojek yang berbaris di trotoar jalan, mulai dari Gojek, Grabb, dan Uber mereka sangat sabar menunggu order tumpangan.
Dalam kehidupan keramain tersebut, pekerjaan apapun itu mungkin yang terbaik bagi mereka, dan mereka bekerja dari pagi sampai sore terkadang sampai malam hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah anak-anaknya, dan untuk keluarga tercinta mereka.
Terharu dan salut ke mereka semua, yang bekerja untuk Ibadah, mencari Ridho Illah, tidak ada pekerjaan yang indah selain pekerjaan itu hasil dari jeri payah.
Sesuai dengan hadist rasullullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Pekerjaan apakah yang paling baik?” Beliau menjawab, “Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan semua pekerjaan yang baik.” (HR. Baihaqi dan Al Hakim; shahih lighairihi)
Alhamdulillah, dari kejauhan sekitar 100 meter pom bensin sudah terlihat, bersamaan itu kumandang Adzan maghrib terdengar, ini nikmat yang luar biasa setelah berjalan 3 sd 4 Km, yang aku tunggu dan nanti telah tiba, aku merogoh kantong membeli sebotol minuman dingin, untuk menghilangkan haus dan dahaga. Alhamdulillah, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan..? (red.Ibnu)

Ikuti kami :

| INSTAGRAM | FACEBOOK TWITTER | 

qs          ytb

Perniagaan Paling Menguntungkan Dan Nabi Langsung Yang Merespon

Ada sahabat nabi yang bernama suhaib arrumi, dia adalah salah satu saudagar yang kaya atu miliarder di Makkah walaupun dia seorang pendatang dia sukses di negeri orang. Suatu hari dia ingin menyusul Nabi untuk hijrah ke Madinah dengan membawa harta nya, tapi di perjalanan dia dihadang oleh orang kuffar Quraish dan saat itulah terjadi perniagaan serta dialog antara suhaib dan kuffar Quraish.

Kuffar Quraish : “wahai suhaib dulu kamu datang ke negeri kami dalam keadaan miskin tidak punya apa-apa, lalu kau tinggal, berbisnis dan sukses di negri kami lalu setelah kau mendapatkan semuanya kau mau hijrah mengikuti Muhammad dengan membawa harta mu ini ..? Itu tidak akan terjadi wahai suhaib, kau tidak akan bisa pergi seenaknya.”

Suhaib : “baiklah kita buat kesepakatan, gimana kalau saya tinggalkan hartaku ini aku serahkan semuanya. Apakah kalian akan membiarkan aku hijrah ke Madinah .. ?”

Kuffar Quraish : baiklah kalau seperti itu .

Setelah negosiasi itu suhaib melanjutkan perjalanan ke Madinah dan berita tentang apa yang terjadi antara suhaib dan kuffar Quraish terdengar oleh Rasulullah sekaligus direspon dengan bersabda : “beruntung nya suhaib, beruntung nya suhaib.”

Itulah perniagaan yang paling berlaba dan direspon langsung oleh manusia terbaik sepanjang masa. (By : Fahrur)

 

Ikuti kami :

| INSTAGRAM | FACEBOOK TWITTER | 

qs          ytb

Kisah Perjuangan Shalat Jumat

Waktu kadang tak selalu lurus, hari kadang tak selalu terang dan cuaca kadang tak selalu baik. Saaat itu kami dan teman saya sedang berangkat melakukan shalat wajib jumatan disebuah masjid didaerah cilandak barat Jakarta selatan. Namun siang itu tiba-tiba turun hujan yang begitu lebat dengan derasnya. Hingga sempat membuat kami berdua bingung karena jika seandainya berangkat jumatan pada saat itu pasti kami berdua kebasahan. Akhirnya saya memutuskan untuk memakai jaket hujan namun jaket hujannya Cuma ada satu dan itu jaket hujan saya, lalu teman saya pergi bersamaan menggunakan motor tanpa memakai jaket hanya saja hanya jaket bekas yang tersisa diasrama kami.

Sampai-sampai dalam perjalanan terus dihempas dengan angina-angin yang kencang dan lebat sekali. Kami berdua bersama dalam satu sepeda motor milik saya. Walaupun cuaca yang kurang baik itu datang namun tak sedikitpun melemahkan semangat jumatan kami berdua. Belum lagi sampai didepan masjid jalanan yang penuh dengan air dan derasnya hujan yang turun. Hingga agak sedikit membuat jaket saya lembab dan basah kedalam. Entah mengapa hal tersebut bisa terjadi. Padahal saya baru membeli jaket tersebut sekitar lima bulan lalu.

Pada akhirnya sampailah dimasjid yang kami tuju yaitu di Jl. H. Niman yusuf lebak bulus 04 No 07 cilandak barat Jakarta selatan. Tepatnya berdekatan dengan sebuah pondok pesantren yang namanya ihya qalbun salim. Yaitu sebuah pondok pesantren pengkaderan ulama dan dai. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar walau harus mati-matian menem,puh perjalan kemasjid demi melaksanakan shalat jumat. Karena sungguh perjalanan terjauh bagi seorang muslim adalah perjalanan kemasjid. (red/budi)

Ikuti kami :

| INSTAGRAM | FACEBOOK TWITTER | 

qs          ytb

Semarak Hari Raya Qurban (Id-Adha) 2016

Jakarta – Pada hari itu pula pelaksanaan shalat Idul Adha tepat pada hari senin tanggal 12 september 2016  atau pada 10 Dzulhijah 1437 H. Suara takbirpun bergema disemua masjid-masjid di kota hingga kepelosok. Hal yang sangat saya syukuri pada hari itu adalah saya dan teman-teman dipesantren bisa menikmati hari raya qurban barakah tersebut. Alhamdulillah pesantren saya mendapatkan banyak hewan qurban terutama beberapa ekor kambing. Selain itu banyak teman-teman pesantren yang mendapatkan jatah hewan qurban dari tempat lain sehingga dipesantren sangat banyak daging qurbannya. 

Sebagai anak pesantren tentunya berbeda dengan anak-anak yang ada diluar pesantren yang mana kebutuhan kesehariannya selalu terpenuhi terutama dalam hal makanan dan lain lain. Namun anak pesantren minim akan hal tersebut. Tapi bukan berarti tergolong orang orang yang tidak punya namun suasana pesantren itu sendirilah yang menciptakan seorang santri menjadi karakter yang mandiri dan berdikari. Ibaratnya bersusah susah dahulu barulah bersenang senang kemudian. Pesantren membentuk karakter seseorang menjadi lebih kokoh dan siap terutama dikalangan masyarakat.

Pada malam hari itu semua teman-teman pesantren saya mempersiapkan berbagai macam peralatan alat bakar karena digunakan untuk membuat sate kambing. Malam itu terasa indah dan meriah sekali walaupun hanya duduk-duduk disekeliling tumpukan nyala api dibawah pohon rambutan sambil membakar dan membolak balikkan daging kambing. Tapi saat itu terasa begitu ceria karena bisa kumpul barsama dibarengi bincang-bincang hangat dan minum kopi terasa malam tersebut turut hadir menyaksikannya.

Akhirnya malampun semakin larut maka usailah acara kita pada malam tersebut. Beralih untuk mengistirahatkan badan ini yang sudah lunglai kecapean karena seharian penuh menjadi panitia qurban dipesantren. Diawal cerita ini saya tidak menyebutkan nama pesantren saya karena kurang begitu menarik bila saya katakan diawal paragraph dengan begitu saya akan memberitahukan kepada pembaca bahwa nama pesantren saya yaitu pesantren Qalbun salim yaitu sebuah pesantren yang mencetak seorang kader-kader dai dan pemimpin ummat atau dalam bahasa arabnya “ma’had adda’wah wa aimmatul ummah”.

Sekianlah cerita singkat saya seputar hari raya idul adha pada tahun 2016 ini semoga akan ada cerita yang lebih baik pada hari raya idul di tahun-tahun mendatang. Buat sahabatku semua baik di kota ataupun di pedesaan jangan pernah berputus asa dalam menjalani hidup ini karena semua gerak dan apa yang kita lakukan sudah Allah atur satu persatu. Semoga pada bulan yang mabruk ini dapat menambahkan rasa syukur kita kepada-Nya dimanapun dan kapanpun kita berada. 

Sadarlah bahwasannya apa saja yang kita miliki tersebut merupakan sebuah amanah dari-Nya yang harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Kasihanilah mereka orang-orang yang tidak mampu dengan memberikan sebagian harta yang kita miliki. Bahkan didalam alquran dikatakan bahwasannya kita tidak akan mendapatkan sebuah kebaikan hingga kita rela memberikan apa yang kita cintai sekalipun itu sangat berharga dalam hidup kita.(red.budi

Ikuti kami :

| INSTAGRAM | FACEBOOK TWITTER | 

qs          ytb